01 Desember 2009

Menjadi telaga atau Samudra

Di pedalaman hutan yang jauh, ada telaga. Kerimbunan pepohonan memayungi tepiannya dan kerapatan perdu menyembunyikannya. Beberapa ekor rusa merapatkan kaki, beberapa ekor burung mengayam sarang, dan beberapa serangga berimpit-impitan. Beberapa pucuk daun jatuh menyapa permukaan, dan telaga itu beriak-riak kecil. Terdengar keributan kera atau raungan anjing hutan, tetapi Cuma sayup-sayup. Suara yang paling nyata dari telaga hanya desiran angin di atasnya. Atau, bunyi katak terjun menyelami kedalamannya. Atau, sama sekali lenggang angin istirahat bersama terlelapnya setiap hewan dan manusia.
Telaga itu begitu tenang, Cuma ada riak-riak saja. Permukaannya bening membuat langit dan seisi alam di sekitarnya dapat berkaca.

Telaga itu dimana? Di buku-buku dongeng para peri tempat putri hutan mengaso bersama kupu-kupu dan kelinci atau di antara legenda ujung pelangi tempat para bidadari turun mandi. Atau di legenda pewayangan tempat para tokoh memulai tapa brata?

Telaga itu dimanapun, ada sungguhan atau pun tidak ada, sering menjadi demikian nyata dalam bayangan imajinatif manusia. Karena ketersembunyainnya, kesahajaan dan ketenangannya. Tentu saja, telaga adalah yang dicari oleh pengelana yang letih. Yang terletak jauh di balik hutan. Jauh di balik bumi. Jauh di balik hati.

Telaga, Siapakah? Jika anda sedag lelah, telaga menjanjikan tempat istirahat, jika anda sedang haus didera terik, telaga adalah kesejukan air dan semilir angin, dan jika tengah terasa hampa, telaga adalah cermin tempat di temukannya kembali keindahan makna-makna. Telaga sendiri adalah sunyi yang cukup dengan dirinya sendiri. Ketika anda sedang kehilangan oriebtasi dan sepi di tengah keramaian.

Personifikasi telaga, bisa bermacam-macam, bisa orangtua, pasangan hidup atau sahabat. Sebagian adalah tamsil yang nyata tentang telaga, sebagian lagi dari mereka juga adalah orang-orang yang menuntut agar telaga terpersonifikasikan senyata-nyata nya.

Berbagai konstruksi nilai adat hingga cerita kartun mendukung tuntutan bahwa seorang gadis, sebagai perempuan harus dihiasi rasa malu sedemikian rupa sehingga dia merasa jauh lebih aman dan benar menyelinap di balik tembok daripada berdiri di depan mendiskusikan ilmu. Seorang gadis yang perempuan haruslah menjadi telaga di tengah hutan, yang tidak terusik oleh siapapun, tersembunyi, dicari dan sejuk dihampiri.

Seorang gadis, karena seperti semua manusia, telah menerima tiupan ruh secara kodratimemang harus menjadi pewaris kebeningan hati. Dia harus menyederhanakan puluhan kalimat menjadi satu dua kata, memeras kata-kata menjadi makna, dan membagikannya seperti segelas sirup dingin kepada yang dahaga. Dia harus menjadi sumber ketenangan karna Pada wanita diamanatkan cinta, yang tulus, yang memberi tanpa pamrih. Yang tidak mengambil kecuali ala kadarnya, yang tenang menenangkan. Seperti telaga.

Namun, ketelagaan manusia tentu tidak ada di balik bajunya, ketelagaan seorang manusia ada di balik hatinya. Dan, betapa kecilnya telaga itu. Ia dapat saja kering ketika kemarau panjang mendera dan sebagian telaga pun melepaskan airnya ke laut.
Karnanya, biarkan saja gadis itu kini lelah menjadi telaga. Dia jujur dan mengenali kelelahannya, itu yang lebih penting. Dia pun tidak wajib menyodorkan air sirup, tetapi juga berhak meminta sirup. Selain itu, menjadi telaga bukan akhir dari sebuah proses menjadi.

Samudra itu luas, kandungannya banyak. Manusia-manusia mencari ikan di dalamnya, berlayar di keluasannya, mencari mutiara di kedalaman samudranya, mengebor minyak bumi di lepas pantainya, dan membangun kota-kota pelabuhan di tepinya. Para penemu benua baru mengalami proses pematangan mental terpenting di dalam hidupnya ketika mengarungi keluasannya.

Memang, samudra tidak setenang, sejernih dan semenawan telaga yang indah karena kecilnya, tetapi sering membuat orang terperangah atau bahkan kecut karena keluasannya. Jika badai terjadi, kapal-kapal kecil di tengah samudra tinggal menunggu kehancuran. Jika badai raksasa bergulung sampai pantai, bahkan kota-kota di pinggirnya pun bisa hilang dalam sekajab. Namun, telaga juga bisa kering dan penduduk di sekitarnya sakit mati kehausan kelaparan.

Jika telaga ada di balik hati, samudra kemanusiam tampaknya susah untuk di tunjuk oleh sebuah kalimat. Ini lantaran keluasan dan kedalamannya. Seorang yg ikhlas menemukan samudra di ujung amal kesehariannya yang diniatkan tulus karena Allah. Namun, seorang perindu Tuhan dapat juga menemukan samudranya bersamaan dengan kehadiran seorang yang ikhlas menerimanya.

Samudra itu muncul bersama kehadiran seorang, ibu, perempuan, lelaki bahkan anak usia balita. Karenanya, samudra kemanusian amat berdimensi Ilahi. Bahkan dalam tingkat kesujudan tertentu, samudra kemanusiaan adalah allah sendiri.

Menyamudra, adalah proses tanpa akhir karena khirnya adalah itu sendiri. Menyamudera juga adalah proses yang lebih jujur sekaligus dinamis dan menantang daripada menjadi telaga. Karena ketika itu, manusia tidak lagi sedang bersolek, tetapi sedang berjalan menuju-NYA.

( Miranda Risang Ayu )

Berpacu Melawan Waktu

Ngomongin soal waktu sebenarnya udah sering banget dibahas ya? Sebab, setiap dari diri kita masing-masing pasti udah punya sistem management sendiri dalam mengatur kebiasaan hidup kita. Jadi sebenarnya kalo mau disamakan modelnya agak susah. Tapi yang terpenting dalam mengatur waktu adalah pastikan sesuai dengan tujuan dan tak ada waktu yang disia-siakan begitu saja. Sebab, waktu ini akan terus berjalan. Sang waktu nggak perlu minta ijin sama kita yang lagi bengong, main gaple, main gim, ngobrol nggak jelas, dan aktivitas miskin manfaat lainnya atau malah yang maksiat.

Waktu bakalan terus berlari meninggalkan kita yang aktif maupun yang nggak pernah bergerak sedikit pun. Sering tak terasa, waktu seminggu sangat cepat, itu kita tahu setelah kita melewatinya. Bagi kita yang melewatinya dengan banyak amal baik insya Allah menjadi tabungan pahala kita kelak. Tapi bagi kita yang melewati hari demi hari dalam seminggu itu hanya dengan bengong dan bertopang dagu saja, rasa-rasanya sangat rugi, apalagi kalo melakukan maksiat, ruginya berlipat-lipat.
Allah berfirman dalam al-Quran:
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإِْنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr [103]: 1-3)

Waktu tak akan kembali
Masih ingat nggak lagunya Raihan yang terinspirasi dari hadis Rasulullah saw. tentang waktu? Yup, gini nih penggalan syairnya: “Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita tak akan menyesal/Masa usia kita jangan disiakan, kerana ia tak ‘kan kembali/Ingat lima perkara sebelum lima perkara/sehat sebelum sakit/muda sebelum tua/kaya sebelum miskin/lapang sebelum sempit/hidup sebelum mati.”

Yup, benar banget. Waktu punya karakter nggak bisa dikembalikan. Terus aja berlalu nggak peduli sama kita. Apa pernah kepikiran kita ingin meng-UNDO seperti pada program komputer? Waktu nggak bisa dikembalikan seperti ketika kita main internet dengan cara mengklik tombol BACK agar bisa mengulangi mengeksekusi sebuah situs web misalnya. Nggak. Waktu itu boleh dibilang hanya sekali jadi. Itu sebabnya, tugas kitalah yang kudu pandai memilih dan memilah dalam memanfaatkan waktu.

Memang waktu adalah semacam ukuran yang kita sepakati bersama. 1 detik, 1 menit, 1 jam, 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun, 1 windu, 1 dasawarsa, 1 abad, dan seterusnya. Itu adalah ukuran-ukuran untuk memudahkan kita mengerjakan segala urusan kita. Adanya batasan waktu adalah agar kita mau mengaturnya dengan baik. Percuma banget kan kalo kita udah dikasih jadwal, udah sepakat dengan waktu yang dibuat, ternyata kita melanggar sendiri kesepakatan tersebut dengan tidak mentaatinya sesuai urutan waktu dan target.

Kalo bicara untung-rugi, tentu bagi kita yang nggak bisa memenuhi semua aturan itu akan rugi karena bisa jadi malah nggak melakukan apa-apa selama waktu yang sudah ditentukan kecuali melakukan kesia-siaan saja yang memang bukan sesuatu yang seharusnya dilakukan.

Nah, pada saat inilah kita udah kehilangan banyak waktu. Tentu saja waktu tak akan pernah balik lagi ngasih kesempatan buat kita untuk melakukan yang telah kita tinggalkan tersebut. Yang bisa dilakukan kita paling banter adalah memperbaiki pada kesempatan berikutnya. Tapi tetap tidak mengubah kondisi balik ke belakang. Karena yang terjadi adalah kita memperbaiki pada waktu yang lain dan selama itu pula kita udah kehilangan banyak kesempatan. Aduh, nggak banget deh!

Nggak percaya? Bayangannya gini nih. Bagi kita yang nggak naik kelas tahun ini karena malas belajar, maka itu kondisi saat ini yang nggak bisa berubah. Tetep nggak naik kelas. Status kita tetap tinggal di kelas sementara teman yang lain udah di kelas berikutnya. Padahal itu terjadi dalam satu waktu, yakni pada kesempatan yang sama. Ya, sekarang ini. Kita insya Allah bisa naik kelas tapi itu terjadi nanti pada tahun depan. Beda kan? Jadi jangan main-main dengan waktu ya. Waktu nggak bakalan kembali lagi. Sekali jadi. So, jangan sampe kita merugikan diri kita sendiri gara-gara nggak bisa memanfaatkan waktu. Sumpah!

Guys, seringkali kita merasa bahwa waktu begitu cepat berlalu. Kayaknya singkat banget. Apa karena kita saking asyiknya menikmati hidup? Hmm.. bisa jadi itu emang faktor perasaan kita. Karena terlalu nikmat hidup di dunia. Tapi ingat juga lho, bahwa ada juga di antara teman kita yang sangat boleh jadi waktu berjalan sangat lambat. Misalnya, bagi orang yang berada di penjara, yang aktivitasnya nggak banyak dan muter di situ terus, waktu terasa berjalan lambat kayak keong.

Waktu yang berjalan terasa cepat selain menunjukkan betapa nikmatnya hidup di dunia, juga menunjukkan bahwa kita semangat menjalani hidup. Banyak kegiatan kita lakukan, banyak janji kita buat, banyak prestasi yang terus kita raih, sehingga tak ada waktu untuk melamun ngeliatin jam berputar. Karena justru kita seolah sedang berlari melangkahi hari-hari berpacu dengan putaran jarum jam atau hentakan detik penanda waktu digital. Barangkali ini yang membuat kita merasakan waktu berlalu begitu cepat.

Hikmahnya, jangan sia-siakan waktu yang terus berjalan cepat ini dengan kegiatan yang miskin manfaat, atau malah bertabur maksiat. Kita nggak bisa balik lagi ke waktu tersebut. Yang bisa adalah memperbaiki dan itu butuh waktu lagi. Sementara mereka yang taat mengatur waktu dengan baik, akan menuai hasil yang bagus pada waktu yang sama dengan yang kita gunakan untuk kegiatan percuma.

Oya, karakter waktu yang cukup unik lainnya adalah bahwa waktu geraknya berbanding lurus. Semakin banyak waktu yang disediakan untuk hidup kita, maka sebanyak itu pula waktu yang diberikan. Itu sebabnya, setiap orang yang berbeda usia nggak bisa balapan soal umur. Jatahnya udah jelas dan dikasih sama. Tapi tetap sesuai start saat memulai hidup di dunia. Nah, karena nggak bisa balapan soal umur, pernah ada anekdot ketika seorang pemuda yang hendak menikahi seorang gadis pujaannya yang berusia lebih muda 3 tahun darinya. Tapi ayah si gadis nggak setuju lalu memberi alasan: “Boleh kamu menikah dengan anak saya, tapi nanti saat umur kamu dan anak saya sama”. Gubrak!

Sobat, waktu terus berjalan seiring dengan bertambahnya usia kita. Itu sebabnya, kita nggak bisa minta ijin, misalnya mo cuti dulu dari bertambahnya usia ketika kita lagi tidur atau ngobrol dan main gim. Usia kita dari detik ke detik terus bertambah. Meskipun kita lagi nggak beraktivitas. Itu sebabnya, jangan mentang-mentang masih muda terus kita merasa masih banyak waktu untuk nanti. Sehingga merasa waktu tersebut harus kita habiskan untuk aktivitas yang kita sukai dan senangi saat ini namun dalam pandangan Islam miskin manfaat. Itu artinya kita menghamburkan kesempatan yang diberikan hanya untuk hal-hal yang remeh-temeh, gitu. Nggak banget deh. Sebab, seharusnya yang kita upayakan dalam setiap detik itu harus bernilai ibadah di hadapan Allah Swt. Setuju kan?

Memanfaatkan waktu
Waktu itu sebenarnya nggak bisa dijinakkan. Kalo kuda liar kita latih jadi baik insya Allah bisa. Tapi soal waktu, kita berbuat baik atau nggak, tetap aja jalan. Nggak peduli sama kita dan lurus-lurus saja. Nah, mungkin yang diperlukan itu adalah bagaimana kita memanfaatkan waktu dengan efektif.

Bagaimana caranya? Pertama, biasakan kita membuat agenda harian. Diurut prioritasnya dari yang sangat penting, kemudian penting, dan biasa. Misalnya sekolah/kuliah tentu menjadi prioritas utama, kemudian ke warnet, barangkali dianggap penting karena misalnya mencari bahan untuk tukul alias tugas kuliah, kemudian yang terkategori biasa misalnya pergi main ke rumah teman. Nah, utamakan yang sangat penting terlebih dahulu baru kemudian yang terakhir yang terkategori biasa.

Kedua, kita harus komitmen dengan apa yang udah kita buatkan jadwalnya. Karena kebiasaan banyak dari kita adalah menulis semua agenda, tapi nggak dikerjakan. Akhirnya malah keleleran. Ketiga, buat target. Ini penting. Apalagi jika yang akan dilakukan adalah “proyek besar” untuk masa depan kita. Jadi harus dibuat batasan waktunya, sehingga rencana yang sudah dibuat itu akan direalisasikan sesuai urutan waktu dan ukuran tahapan tingkat pencapaiannya. Jangan lupa, pastikan selalu ada evaluasi, agar dari waktu ke waktu lebih baik lagi.

Gimana kalo kita lagi malas ngapa-ngapain, apa malas bisa dikategorkan sebagai pembunuh kesempatan? Hmm… rasa malas itu saya pikir manusiawi kali ya. Soalnya semua orang kayaknya pasti pernah merasakan malas. Itu sebabnya, Rasulullah saw. juga mengajarkan doa agar kita meminta kepada Allah Swt. untuk dihilangkan dari penyakit malas. Maka, kalo pun rasa malas itu mendera kita, pastikan kita bisa mengendalikan diri.

Caranya? Jangan terlena dan jangan mengampuni diri sendiri bahwa rasa malasnya itu adalah manusiawi. Nggak gitu. Tapi cari akibatnya, mungkin malas karena capek, maka kita bisa atur waktu dan kegiatan lainnya supaya nggak kecapekan. Ketika malas ngapa-ngapain dan akhirnya malah main gim dengan tujuan untuk refreshing silakan saja. Tapi jangan keterusan. Ingat waktu terus berjalan meninggalkan kita. Kalo udah hilang penat dan stresnya segera berhenti main gim. Setelah itu, ya kembali kepada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Oya, sekadar berbagi aja, kebiasaan saya dalam mengatur dan memanfaatkan waktu sejujurnya memang masih banyak kekurangannya. Tapi setidaknya saya berusaha menekan diri sendiri untuk terus komitmen pada setiap kegiatan yang waktunya sudah dialokasikan. Jadi saya biasanya membuat jadwal yang saya tulis di buku agenda, di ponsel saya, di organizer program komputer, atau di kertas styrofoam yang ditempel di dinding. Agenda harian, mingguan atau bulanan. Baik yang rutin maupun yang tertentu pas ada momen spesial aja. Untuk kegiatan menulis buku, saya biasanya pake target, sehingga ada alat ukur tingkat pencapaiannya. Itu aja sih yang biasa saya lakukan. Mungkin bisa menjadi inspirasi teman-teman yang sempat baca artikel ini.

Sobat, di dunia ini kita berpacu dengan waktu, maka tingkatkan kualitas perbuatan kita, syukur-syukur bisa lebih banyak kita lakukan. Tentu perbuatan yang benar dan baik sesuai tuntunan Allah dan RasulNya. Untuk apa? Ya, untuk masa depan kita di dunia dan di akhirat. Insya Allah. Sebab, jangan sampe umur kita habis, tapi kita banyak maksiatnya. Kematian itu nggak bisa kita ketahui kapan datangnya. Jadi, harap diingat, Malaikat Izrail nggak bakal kirim “pesan kematian” kepada kita melalui SMS dengan bunyi: “Maaf, masa aktif hidup Anda akan segera habis. Sudah terlalu banyak dosa Anda di buku catatan akhirat. Sehingga saldo iman berkurang. Segera isi ulang iman Anda sebelum nyawa Anda diblokir.” Hehehe.. kalo dikasih tahu gitu sih enak dong.
Yuk, mumpung masih diberikan waktu, kita manfaatkan untuk beramal baik. Kita sama-sama berusaha menjadi yang terbaik di hadapan Allah Swt. Keep istiqamah dan tetap semangat!

Menuju Surga dengan Cinta

eramuslim - Setiap individu pasti akan merasai cinta dan mencintai sesuatu. Cinta adalah perasaan halus yang dimiliki hati setiap manusia, dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Islam, cinta merupakan masalah utama dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ini karena Islam sendiri merupakan agama yang berasaskan cinta. Sabda Rasullulah SAW.: "Tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang maka ia akan mendapat manisnya iman, yakni: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain; mencintai seseorang hanya karena Allah, dan benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka" (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itulah Islam menyeru kepada cinta, yaitu cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada agama, cinta kepada aqidah, juga cinta kepada sesama makhluk, sebagaimana Allah menjadikan perasaan cinta antara suami istri sebagai sebagian tanda dan bukti kekuasaan-Nya, firman Allah SWT: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS. Ar-Ruum: 21).

Jelaslah bahwa cinta adalah tanda kehidupan ruhani dalam aqidah orang mukmin, seperti halnya cinta juga menjadi dasar dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Selain itu, iman dalam Islam ditegakkan berdasarkan cinta dan kasih sayang, sebagaimana terlukis indah dalam sabda Rasulullah SAW : "Demi Dzat yang diriku ada di tanganNya, kamu tidak akan masuk syurga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak akan beriman dengan sempurna hingga kamu saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR Muslim)

Dalam hadist diatas, Rasullulah SAW menegaskan bahwa jalan menuju ke syurga bergantung kepada iman, dan iman bergantung kepada cinta. Maka cinta adalah syarat dalam iman, rukun dalam aqidah, dan asas dalam agama.

Cinta dalam Islam adalah kaidah dan sistem yang mempunyai batas. Ia adalah penunjuk ke arah mendidik jiwa, membersihkan akhlaq serta mencegah atau melindungi diri daripada dosa-dosa. Cinta dapat membimbing jiwa agar bersinar cemerlang, penuh dengan perasaan cinta dan dicintai.

Sayangnya dalam kondisi saat ini, cinta yang lahir cenderung penuh hawa nafsu dan menyimpang daripada tujuan murni yang sebenarnya. Setiap saat, setiap hari kita dibuai dengan lagu cinta, dibuat terlena dengan tontonan kisah cinta yang menghanyutkan kita ke dunia khayal yang merugikan. Kini bahkan banyak yang menyalahartikan makna cinta sebenarnya, sehingga terdorong melewati batas pergaulan dan tatasusila seorang mukmin.

Untuk itu, renungkanlah sejenak hakikat kehidupan kita di dunia. Rasullulah SAW bersabda: "Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai diri sendiri." Juga sabda Rasulullah, "Barang siapa ingin mendapatkan manisnya iman, maka hendaklah ia mencintai orang lain karena Allah." (HR Hakim dari Abu Hurairah).

Aksi tuntut Profesionalisme dan Transparasi Birokrasi

Kampus Terlalu Obral Janji, Mahasiswa STAIN Demo
Jumat, 13/11/2009 11:00 WIB - fii

SUKOHARJO (Joglosemar): Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (Stain) Surakarta melakukan aksi unjuk rasa, lantaran birokrasi kampus yang tidak transparan dan tidak profesional.
Aksi demo ratusan mahasiswa tersebut merupakan puncak dari audiensi antara mahasiswa dengan birokrasi beberapa waktu yang lalu, yang menemui jalan buntu.
Unjuk rasa diikuti oleh mahasiswa yang tergabung dalam BEM, BEM Jurusan serta seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dalam aksinya, mereka berkeliling ke setiap ruang kelas untuk mengajak mahasiswa yang lain turut serta mendukung aksi unjuk rasa.
Setelah para demonstran berkeliling untuk mencari masa, aksi pun dilanjutkan dengan melakukan orasi di depan kantor Rektorat. Unjuk rasa diwarnai pula dengan aksi teatrikal, yang dua orang sedang terlibat dalam adegan pemukulan.
Drama tersebut menggambarkan adanya penindasan mahasiswa oleh pihak birokrasi. Namun aksi mahasiswa tersebut tidak ditanggapi oleh pihak birokrasi, terbukti pihak birokrasi tidak menemui para demonstran yang menanti di luar Rektorat. Perwakilan mahasiswa memasuki Rektorat untuk kembali menyampaikan tuntutannya kepada birokrasi.
Koordinator lapangan, Nasmi menjelaskan bahwa pihak birokrasi kampus terlalu banyak janji kepada mahasiswa, namun realisasinya nihil. Ia mencontohkan, mahasiswa ditarik uang senilai Rp 300.000 untuk pembuatan gedung pusat pengembangan pengetahuan bahasa asing (P3BA). Namun hingga sekarang dibiarkan kosong, sehingga tidak ada kejelasan fungsi.
Contoh lainnya, ruang auditorium yang mestinya digunakan untuk menunjang kegiatan mahasiswa, justru disewakan untuk umum. Transparansi keuangan di birokrasi juga menjadi sorotan para mahasiswa.
Sementara itu, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIN, Arif Priyanto dalam orasinya mengatakan, aksi tersebut merupakan gerakan riil dengan menggalang kekuatan untuk mengingatkan kampus. “Lembaga telah gagal dalam hal transparansi keuangan, dan kami para mahasiswa hanya diberi janji-janji,” ujarnya.
Omong Kosong
Di samping keuangan yang tidak transparan, para mahasiswa juga mempersoalkan pelayanan perpustakaan yang tidak maksimal serta adanya komersialisasi sarana prasarana kampus dengan alokasi yang tidak jelas.
Realisasi program komputerisasi yang dijanjikan tahun lalu kepada seluruh lembaga kemahasiswaan hanya omong kosong, karena sampai sekarang belum bisa terwujud. Serta dianggap lemahnya perhatian kampus terkait sarana dan prasarana olah raga bagi mahasiswa, dalam hal ini berlawanan dengan janji dari Birokrasi.
Terkait permasalahan tersebut hari ini ditargetkan 200 mahasiswa untuk melakukan aksi untuk mengkritisi kebijakan dari birokrasi, tambahnya. (fii)

Liputan Media aksi BEM STAIN KPK &POLRI

Sorot kasus KPK Vs Polri, STAIN demo

By indah septiyaning (solopos) on 7 November 2009 | 20:18

Sukoharjo (Espos)–Puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Surakarta menggelar aksi demonstrasi di bundaran perempatan Kartasura, Sabtu (7/11).

Hal tersebut dilakukan sebagai ungkapan rasa tidak percaya kepada Presiden , Polri dan Kejaksaan Agung terkait kasus Komisi Pemberantas Korupsi (KPK).

Berdasarkan pantauan Espos, long march dilakukan dari kampus memutar ke arah Polsek Kartasura dan menuju bundaran Perempatan Kartasura. Mereka sempat beberapa saat menggelar orasi di Polsek Kartasura sebagai ungkapan rasa kecewa atas kinerja Polisi dalam hal penyidikan yang dilakukan.

Dalam aksi tersebut mereka membawa keranda mayat yang terbuat dari kayu. Di atas keranda mayat itu yang diartikan sebagai ungkapan kematian di tubuh Polri. Menurut Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAIN Surakarta sekaligus Koordinator Aliansi, Arif Priyanto, ada 60 mahasiswa yang terjun ke jalan menyuarakan aspirasi masyarakat terkait polemik kasus KPK dan Polri.

“Ada lima tuntutan yang diajukan mahasiswa di antaranya berantas mafia peradilan hingga ke akar-akarnya,” paparnya di sela-sela aksi demonstrasi.

Puncak aksi demonstrasi tersebut mahasiswa membakar keranda mayat di pelataran bundaran Kartasura, hal itu menjadi lambang rasa miris atas perkembangan dunia peradilan yang dinilai goyang dan terintervensi dari berbagai pihak. Dia menambahkan, harus ada reformasi di tubuh Kepolisian maupun Kejaksaan Agung, dan mengisi pucuk pimpinan lembaga itu dengan personal yang mumpuni.

25 November 2009

KEUTAMAAN SHOUM 'AROFAH (tgl 9 Dzulhijjah)

Assalaamu'alaykum. . .

Sahabat sekalian, insyaAlloh tanggal 26 November besuk kita telah memasuki tgl 9 dzulhijjah, dan berkenaan dengan hal itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ، وَ السَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ

“Puasa pada hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dengannya) dosa-dosa pada tahun lalu dan tahun yang akan datang”.[1]

An-Nawawiy rahimahullah berkata :

قوله صلى الله عليه وسلم: "صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده" معناه يكفر ذنوب صائمه في السنتين، قالوا: والمراد بها الصغائر،

“Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Puasa pada hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dengannya) dosa-dosa pada tahun lalu dan tahun yang akan datang’ ; maknanya adalah menghapuskan dosa-dosa bagi orang yang berpuasa pada hari itu selama dua tahun. Mereka (para ulama) berkata : Maksudnya adalah menghapus dosa-dosa kecil” [Syarh Shahih Muslim, 8/50-51].

قوله صلى الله عليه وسلم في يوم عرفة " يكفر السنة الماضية والمستقبلة " قال الماوردى في الحاوى فيه تأويلان (أحدهما) ان الله تعالي يغفر له ذنوب سنتين (والثانى) ان الله تعالي يعصمه في هاتين السنتين فلا يعص فيهما وقال السرخسي أما السنة الاولي فتكفر ما جرى فيها قال واختلف العلماء في معنى تكفير السنة الباقية المستقبلة وقال بعضهم معناه إذا ارتكب فيها معصية جعل الله تعالي صوم يوم عرفة الماضي كفارة لها كما جعله مكفرا لما في السنة الماضية وقال بعضهم معناه ان الله تعالي يعصمه في السنة المستقبلة عن ارتكاب ما يحتاج فيه إلى كفارة

“Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengenai hari ‘Arafah : ‘dapat menghapus dosa-dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang’ ; berkata Al-Maawardiy dalam Al-Haawiy bahwasannya hadits ini mempunyai dua penafsiran. Pertama, Allah ta’ala mengampuni dosa-dosanya selama dua tahun; Kedua, Allah ta’ala menjaganya untuk tidak berbuat dosa selama dua tahun. As-Sarkhaasiy berkata : ‘Adapun tahun pertama, maka dosa-dosanya akan diampuni’. Ia melanjutkan : ‘Para ulama berbeda pendapat mengenai makna penghapusan dosa di tahun selanjutnya (tahun depan). Sebagian mereka mengatakan, maknanya adalah bila seseorang melakukan maksiat pada tahun itu, Allah ta’ala akan menjadikan puasa di hari ‘Arafah yang ia lakukan di tahun lalu sebagai penghapus, sebagaimana ia menjadi penghapus dosa di tahun sebelumnya. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa maknanya adalah Allah ta’ala menjaganya dari melakukan dosa di tahun depan” [Al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab, 6/381].

Ash-Shan’aniy rahimahullah berkata :

استشكال تكفير ما لم يقع، وهو ذنب السنة الآتية، وأجيب بأن المراد أنه يوفق فيها لعدم الإتيان بذنب؛ وسماه تكفيراً لمناسبة الماضية، أو أنه إن أوقع فيها ذنباً، وفق للإتيان بما يكفره.

“Sulit diterima penghapusan dosa yang belum terjadi, yaitu dosa tahun yang akan datang. Pendapat itu dibantah dengan alasan bahwa yang dimaksudkan adalah bahwa ia diberi taufiq pada tahun yang akan datang untuk tidak melakukan dosa. Hanya saja itu dinamai penghapusan untuk penyesuaian dengan istilah tahun lalu. Atau bahwa jika dia melakukan dosa tahun yang akan datang, maka ia diveri taufiq untuk melakukan sesuatu yang akan menghapuskannya” [Subulus-Salaam, 2/461].

Mengenai jenis dosa yang dihapuskan Allah ta’ala dari amalan puasa ‘Arafah, An-Nawawiy rahimahullah berkata :

قلت وفى معنى هذه الاحاديث تأويلان (أحدهما) يكفر الصغائر بشرط أن لا يكون هناك كبائر فان كانت كبائر لم يكفر شيئا لا الكبائر لا الكبائر ولا الصغائر (والثانى) وهو الاصح المختار انه يكفر كل الذنوب الصغائر وتقديره يغفر ذنوبه كلها إلا الكبائر قال القاضى عياض رحمه الله هذا المذكور في الاحاديث من غفران الصغائر دون الكبائر هو مذهب أهل السنة وان الكبائر إنما تكفرها التوبة أو رحمة الله تعالي

“Aku katakan : hadits-hadits ini mempunyai dua penafsiran : Pertama, menghapus dosa-dosa kecil dengan syarat ia tidak melakukan dosa besar. Jika ada dosa besar, maka tidak akan menghapus apapun, baik dosa besar ataupun dosa kecil. Kedua, - dan ini adalah pendapat yang lebih shahih/benar lagi terpilih – ia menghapus setiap dosa kecil. Jadi pengetiannya adalah (Allah) mengampuni semua dosanya, kecuali dosa besar. Telah berkata Al-Qaadliy ‘Iyaadl rahimahullahu ta’ala : ‘Apa yang disebutkan dalam hadits-hadits ini berbicara tentang pengampunan terhadap dosa-dosa kecil, selain dosa besar. Inilah madzhab Ahlus-Sunnah, karena dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat atau rahmat Allah ta’ala” [Al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab, 6/382].

Disunnahkannya puasa ‘Arafah ini khusus bagi mereka yang tidak sedang melakukan wuquf di ‘Arafah. Adapun yang sedang wuquf di ‘Arafah, maka tidak disunnahkan.

عن أبي نجيح قال سئل بن عمر عن صوم يوم عرفة بعرفة فقال : حججت مع النبي صلى الله عليه وسلم فلم يصمه ومع أبي بكر فلم يصمه ومع عمر فلم يصمه ومع عثمان فلم يصمه وأنا لا أصومه ولا آمر به ولا أنهى عنه

Dari Abu Najiih ia berkata : Ibnu ‘Umar pernah ditanya tentang puasa ‘Arafah, lalu ia menjawab : “Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak berpuasa, bersama Abu Bakar dan ia tidak berpuasa, bersama ‘Umar dan ia tidak berpuasa, juga bersama ‘Utsmaan dan ia tidak berpuasa. Adapun aku tidak berpuasa, tidak memerintahkannya, dan tidak pula melarangnya” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 751, Ahmad 2/47 & 50, Ad-Daarimiy no. 1772, Abu Ya’laa no. 5595, Ibnu Hibbaan no. 3604, dan Al-Baghawiy no. 1792; shahih].[2]

عن أم الفضل بنت الحارث : أَنَّ نَاساً تَمَارَوا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ بَعضُهُمْ : هُوَ صَائِمٌ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ : لَيْسَ بِصَائِمٍ. فَأَرْسَلَتُ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيْرِهِ فَشَرِبَهُ.

Dari Ummul-Fadhl binti Al-Haarits : Bahwasannya orang-orang berdebat di sisinya pada hari ‘Arafah tentang puasa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka berkata : “Beliau berpuasa”. Sebagian lain berkata : “Beliau tidak berpuasa”. Lalu aku (Ummul-Fadhl) mengirimkan pada beliau satu wadah yang berisi susu ketika beliau sedang wuquf di atas ontanya. Maka, beliau meminumnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 1988 dan Muslim no. 1123].

عن سَعِيدِ بْنِ جُبَيرٍ، قَالَ : أَتَيْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ بِعَرَفَةَ، وَهُوَ يَأْكُلُ رُمَّاناً، فَقَالَ : أَفْطَرَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِعَرَفَةَ، فَبَعَثَتْ إِلَيْهِ أَمُّ الْفَضلِ بِلَبَنٍ، فَشَرِبَهُ.

Dari Sa’iid bin Jubair, ia berkata : “Aku mendatangi Ibnu ‘Abbaas di ‘Arafah yang waktu itu sedang makan buah delima. Lalu ia berkata : ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berbuka di ‘Arafah. Ummul-Fadhl pernah mengirim susu, lalu beliau meminumnya” [Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy dalam Al-Kubraa no. 2828 dengan sanad shahih].

Inilah pendapat shahih dari jumhur ulama.

At-Tirmidziy rahimahullah berkata :

وقد استحب أهل العلم صيام يوم عرفة إلا بعرفة

“Para ulama menyenangi puasa di hari ‘Arafah, kecuali jika berada di ‘Arafah (melaksanakan wuquf haji)” [Sunan At-Tirmidziy, 2/116].

An-Nawawiy rahimahullah berkata :

(واما) الحاج الحاضر في عرفة فقال الشافعي في المختصر والاصحاب يستحب له فطره لحديث أم الفضل وقال جماعة من أصحابنا يكره له صومه

“Adapun bagi orang yang melaksanakan haji di ‘Arafah, berkata Asy-Syafi’iy dan murid-muridnya dalam Al-Mukhtashar : ‘Disunnahkan baginya untuk berbuka berdasarkan hadits Ummul-Fadhl. Dan berkata sekelompok dari shahabat kami : Dimakruhkan baginya untuk berpuasa” [Al-Majmu’, 6/380].

Ibnu Baaz rahimahullah pernah ditanya : “Apa hukum puasa di hari kesembilan bulan Dzulhijjah ?”. Maka beliau rahimahullah menjawab :

يوم التاسع سنة، يوم عرفة سنة لجميع الناس صيام يوم عرفة، سئل النبي عن يوم عرفة فقال عليه الصلاة والسلام: (يكفر الله به السنة التي قبله والسنة التي بعده) فيوم عرفة يسن صيامه للرجال والنساء إلا من كان في الحج فلا يصوم، من كان حاجاً فإنه يقوم يوم عرفة مفطراً هذه السنة، أما غير الحجاج فالسنة لهم أن يصوموا إذا تيسر ذلك.

“(Puasa di) hari kesembilan adalah sunnah. Hari ‘Arafah adalah sunnah bagi seluruh kaum muslimin untuk berpuasa di dalamnya. Nabi pernah ditanya mengenai hari ‘Arafah, maka beliau ‘alaihish-shalaatu was-salaam menjawab : ‘Allah mengampuni dengannya dosa-dosa pada tahun lalu dan tahun yang akan datang’. Oleh karena itu, pada hari ‘Arafah disunnahkan untuk berpuasa bagi laki-laki dan wanita kecuali bagi mereka yang melaksaksanakan haji, maka ia tidak berpuasa. Barangsiapa yang melaksanakan haji, maka pada hari ‘Arafah itu ia berbuka pada tahun ini. Adapun selain orang-orang yang berhaji, maka yang sunnah bagi mereka adalah berpuasa jika merasa ringan/mudah melaksanakannya” [sumber : http://www.ibnbaz.org.sa/mat/19016].

Namun ada keterangan dari beberapa orang salaf yang tetap berpuasa walaupun mereka berada di ‘Arafah melakukan wuquf.

عن هشام بن عروة ، عن أبيه ، قال : "مَا شَهِدَ أَبِي عَرَفَةَ قَطُّ إِلَّا وَهُوَ صَائِمٌ"

Dari Hisyaam bin ‘Urwah, dari ayahnya, ia berkata : “Tidaklah aku menyaksikan ayahku (‘Urwah bin Zubair)di ‘Arafah, kecuali ia sedang berpuasa” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraiy dalam Tahdziibul-Aatsaar no. 1057; shahih].

عن القاسم بن محمد ، قال : " رأيت عائشة عشية عرفة يدفع الإمام ، فتقف بعد حتى يقصى ما بينها وبين الناس من الأرض ، ثم تدعو بالشراب فتفطر "

Dari Al-Qaasim bin Muhammad, ia berkata : “Aku pernah melihat ‘Aisyah pada waktu sore di ‘Arafah meninggalkan (memisahkan diri dari) imam (rombongan haji). Ia berhenti sebentar hingga orang-orang jauh darinya, lalu minta dibawakan minuman dan mulai berbuka puasa” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraiy dalam Tahdziibul-Aatsaar no. 1059; shahih].

Hal itu sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah :

أكثر أهل العلم يستحبون الفطر يوم عرفة بعرفة ،وكانت عائشة وابن الزبير يصومانه، وقال قتادة : لا بأس به إذا لم يضعف عن الدعاء، وقال عطاء :أصوم في الشتاء ولا أصوم في الصيف، لأن كراهة صومه إنما هي معللة بالضعف عن الدعاء فإذا قوي عليه أو كان في الشتاء لم يضعف فتزول الكراهة

“Kebanyakan ulama menyenangi berbuka pada hari ‘Arafah ketika berada di ‘Arafah. Adalah ‘Aisyah dan Ibnu Zubair tetap berpuasa (saat di ‘Arafah). Qataadah berkata : ‘Tidak mengapa dengannya jika tidak menyebabkan lemah untuk berdoa’. ‘Athaa’ berkata : ‘Aku berpuasa saat musim dingin, dan aku tidak berpuasa saat musim panas’. Kemakruhan berpuasa di waktu itu dikarenakan akan menyebabkan kelemahan untuk berdoa. Namun bila ia kuat melaksanakannya atau saat berada di musim dingin sehingga tidak membuat lemah, maka kemakruhan itu pun hilang” [Al-Mughniy, 3/58].

Puasa ‘Arafah Menurut Negeri Masing-Masing atau Menurut Saudi ?

Permasalahan ini menjadi khilaf di kalangan ulama’. Sebagian ulama memahami bahwa ibadah ini (dan juga ‘Iedul-Adlha)[3] tergantung pada sebab terlihatnya bulan Dzulhijjah, sebagaimana hal yang sama untuk permulaan Ramadlan dan Syawal. Sementara itu ulama lain berpendapat bahwa ibadah ini mengikuti ibadah haji di tanah Haram yang merupakan bentuk solidaritas para hujjaj. Dan dalam hal ini, kami mengikuti tarjih ulama pada pendapat kedua. Hal itu didasari oleh beberapa alasan berikut :

1. Telah berlalu penjelasan bahwasannya puasa ‘Arafah disunnahkan hanya bagi mereka yang tidak melaksanakan wuquf di ‘Arafah. Ini mengandung pengertian bahwa puasa ‘Arafah ini terkait dengan pelaksanaan ibadah haji/wuquf. Jika para hujjaj telah wuquf, maka pada waktu itulah disyari’atkannya melaksanakan puasa ‘Arafah bagi mereka yang tidak melaksanakan haji.

2. Dalam nash-nash tidak pernah disebutkan puasa di hari kesembilan, namun hanya disebutkan puasa ‘Arafah. Berbeda halnya dengan puasa ‘Aasyuura yang disebutkan tanggalnya secara spesifik :

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما يقول: حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه، قالوا: يا رسول الله ! إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "فإذا كان العام المقبل إن شاء الله، صمنا اليوم التاسع. قال: فلم يأت العام المقبل، حتى توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas radliyallaahu ;anhumaa, ia berkata : “Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di hari ‘Aasyuuraa dan memerintahkannya, para shahabat berkata : ‘Sesungguhnya ia adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani’. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Tahun depan, insya Allah, kita akan berpuasa di hari kesembilan”. Ibnu ‘Abbas berkata : “Sebelum tiba tahun depan, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah wafat” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1134].

عن ابن عباس يقول في يوم عاشوراء خالفوا اليهود وصوموا التاسع والعاشر

Dari Ibnu ‘Abbaas ia berkata tentang (puasa) hari ‘Aasyuuraa’ : “Selisihilah orang-orang Yahudi dan berpuasalah di hari kesembilan dan kesepuluh” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 7839 dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 4/287; shahih].

Adapun perintah berpuasa ‘Arafah adalah :

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ، وَ السَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ

“Puasa pada hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dengannya) dosa-dosa pada tahun lalu dan tahun yang akan datang”

Jadi jelas perbedaannya bahwa puasa ‘Arafah tidak tergantung pada urutan hari dalam bulan Dzulhijjah, namun pada pelaksanaan wuquf di ‘Arafah.

3. Telah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فطركم يوم تفطرون وأضحاكم يوم تضحون

“Berbuka kalian adalah hari kalian berbuka dan penyembelihan kalian adalah hari kalian menyembelih” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2324, Al-Baihaqiy 1/251, Ad-Daaruquthniy 2/163; shahih. Lihat Shahiihul-Jaami’ no. 4225].

فطركم يوم تفطرون وأضحاكم يوم تضحون وعرفة يوم تعرفون

“Berbuka kalian adalah di hari kalian berbuka, penyembelihan kalian adalah di hari kalian menyembelih, dan ‘Arafah kalian adalah di hari kalian melakukan wuquf di ‘Arafah” [Diriwayatkan oleh Asy-Syaafi’iy dalam Al-Umm 1/230 dan Al-Baihaqiy 5/176; shahih dari ‘Athaa’ secara mursal. Lihat Shahiihul-Jaami’ no. 4224].

يوم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام وهي أيام أكل وشرب

“Hari ‘Arafah, hari penyembelihan (‘Iedul-Adlhaa), dan hari-hari tasyriiq adalah hari raya kita orang-orang Islam. Ia adalah hari-hari makan dan minum” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2419 dan At-Tirmidziy no. 773; shahih].

Makna ’ penyembelihan kalian adalah hari kalian menyembelih’ dan ‘Arafah kalian adalah di hari kalian melakukan wuquf di ‘Arafah’ adalah mengikuti dan menyesuaiakan pelaksanakaan hari menyembelih dan pelaksanaan wuquf orang-orang yang melaksanakan haji di Makkah.

An-Nawawiy rahimahullah berkata :

قَال أَصْحَابُنَا: وَليْسَ يَوْمُ الفِطْرِ أَوَّل شَوَّالٍ مُطْلقًا وَإِنَّمَا هُوَ اليَوْمُ الذِي يُفْطِرُ فِيهِ النَّاسُ بِدَليل الحَدِيثِ السَّابِقِ، وَكَذَلكَ يَوْمَ النَّحْرِ، وَكَذَا يَوْمَ عَرَفَةَ هُوَ اليَوْمُ الذِي يَظْهَرُ للنَّاسِ أَنَّهُ يَوْمَ عَرَفَةَ، سَوَاءٌ كَانَ التَّاسِعَ أَوْ العَاشِرَ قَال الشَّافِعِيُّ فِي الأُمِّ عَقِبَ هَذَا الحَدِيثِ: فَبِهَذَا نَأْخُذُ

“Telah berkata shahabat-shahabat kami (fuqahaa’ Syafi’iyyah) : Tidaklah hari berbuka (‘Iedul-Fithri) itu (mempunyai pengertian) hari pertama bulan Syawal secara muthlaq. Ia adalah hari dimana orang-orang berbuka padanya dengan dalil hadits sebelumnya (yaitu : ‘Berbuka kalian di hari kalian berbuka’). Begitu pula dengan hari penyembelihan (Yaumun-Nahr/’Iedul-Adlhaa). Begitu pula dengan hari ‘Arafah, ia adalah hari yang nampak bagi orang-orang bahwasannya hari itu adalah hari ‘Arafah. Sama saja apakah itu hari kesembilan atau hari kesepuluh. Asy-Syaafi’iy berkata dalam Al-Umm saat berkomentar tentang hadits ini : Maka dengan inilah kami berpendapat…..” [Al-Majmu’’, 5/26].

Hari yang nampak sebagai hari ‘Arafah adalah hari ketika orang-orang yang melaksanakan ibdah haji wuquf di ‘Arafah.

4. Husain bin Al-Harts Al-Jadaliy pernah berkata :

أن أمير مكة خطب ثم قال : عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن ننسك للرؤية فإن لم نره وشهد شاهدا عدل نسكنا بشهادتهما ....

“Bahwasannya amir kota Makkah pernah berkhutbah, lalu berkata : ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berpesan kepada kami agar kami (mulai) menyembelih berdasarkan ru’yah. Jika kami tidak melihatnya, namun dua orang saksi ‘adil menyaksikan (hilal telah tampak), maka kami mulai menyembelih berdasarkan persaksian mereka berdua….” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2338; shahih].

Atsar di atas menunjukkan ru’yah hilal yang dianggap/dipakai untuk melaksanakan ibadah penyembelihan (dan semua hal yang terkait dengan haji) adalah ru’yah hilal penduduk Makkah, bukan yang lain. Dengan demikian, maka hadits tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu Amir Mekkah-lah yang menetapkan pelaksanaan manasik haji, mulai dari wuquf di ‘Arafah, Thawaf Ifadlah, bermalam di Muzdalifah, melempar Jumrah, dan seterusnya. Atau dengan kata lain, penguasa yang menguasai kota Mekkah saat ini berhak menentukan wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah), pelaksanaan penyembelihan hewan kurban (10 Dzulhijjah), dan rangkaian manasik haji lainnya. Hal itu berarti negeri-negeri Islam lainnya harus mengikuti penetapan hari wukuf di Arafah, yaumun nahar (hari penyembelihan hewan kurban pada tanggal 10 Dzulhijjah) berdasarkan keputusan Amir Mekkah, atau penguasa yang saat ini mengelola kota Makkah.[4]

DEPKOMINFO BEM STAIN SURAKARTA mengucapkan selamat menunaikan ibadah shoum 'arofah, dan hari raya idul adha tahun ini. .

Wallaahu a’lam.

27 Oktober 2009

Saatnya kita Buat Trobosan Buat Perbaikan Kampus

Ada banyak sms yang masuk meminta teman-teman BEM STAIN melakukan Advokasi terhadap perbaikan kampus STAIN Surakarta, banyak usulan disampaikan mulai dari permasalahan perpus sampai perbaikan sarana ibadah yang ada. mengingat pentingnya masukan-masukan dan saran-saran dari seluruh keluarga besar mahasiswa STAIN Surakarta dalam upaya melakukan pengkritisan terhadap kebijakan-kebijakan kampus yang kurang pro terhadap aspirasi mahasiswa maka dalam waktu dekat kami dari keluarga besar BEM STAIN surakarta bekerja sama dengan Dewan Perwakilamn Mahasiswa berencana akan mengadakan Audiensi akbar dengan seluruh mahasiswa STAIN untuk menerima masukan2 dan keluhan2 yang dialami oleh mahasiswa dalam rangka perbaikan kampus STAIN ke arah yang lebih baik. Acara rencananya akan kami adakan pada hari selasa, 3 Nopember jan 09.00 bertempat di gedung Auditorium STAIN Surakarta.

Selamat Menempuh Hidup Baru

Keluarga besar BEM STAIN Surakarta mengucapkan selamat atas pernikahan staff Departemen Dalam negeri BEM STAIN surakarta saudara Trioko Budi Anggoro bersama Agus Novita Arif Istiqomah semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, sebagaimana keluarga rasulullah SAW. Dengan semangat baru menyongsong tugas yang baru....kita tunggu temen2 BEM yang lain siapa dulu yang mau nikah..he..he...

Pengambilan Fasilitas OSPEK

Buat adek2 mahasiswa baru yang belum mendapatkan fasilitas OSPEK jangan kawatir karena kami dari BEM STAIN akan bertanggung jawab penuh terhadap penyediaan fasilitas OSPEK ini, jadi buat kamu2 yang belum dapat fasilitas langsung saja hubungi BEM STAIN, dan nanti dalam waktu dekat kami juga akan bekerjasama dengan jurusan-jurusan untuk pembagian fasilitas ini agar lebih teratur dan sistematis. mohon maaf buat adek2 ku semua yang sampai saat ini belum menerima fasilitas OSPEK karena terkendala masalah teknis.

27 September 2009

OSPEK In Memorial

Buat kamu-kamu semua adek-adekku mahasiswa baru...pasti dah seneng semua nih....kan habis mudik pasti banyak pengalaman menarik yang bisa di ceritakan kepada temen-temen yang lain. mulai dari sungkeman sama ortu, silaturahim ke tetangga dan sanak saudara serta teman-teman SMA wah tentunya menjadi suatu kenangan manis tersendiri di hari raya idul fitri ini. Besok senin 28 september kampus dah mulai aktivitas perkuliyahan lagi, pastikan adek2 dalam kondisi sehat dan senang di awal-awal menjadi mahasiswa baru, tatap muka pertama dengan dosen akan menjadi sejarah yang bakal terkenang sebagai pertanda start kuliyah...pokoknya mantab deh....

Awal masuk kampus tentu menjadi suatu kenangan tersendiri bagi seorang mahasiswa mulai dari kisah lucu, sedih, tegang sampai kisah-kisah unik lainya. OSPEK..oh ya...OSPEK...OSPEK...suatu tanda kenangan awal yang tak terlupakan...mulai dari secreening, pembagian kelompok, cari tugas resitasi, acara-acara asyik, wah banyak buanget tentu kenangan yang ada di OSPEK, tak terkecuali OSPEK BEM STAIN tahun 2009 pastinya lebih dasyat dan seru untuk dikenang.....so pastilah..

Ayo adek2 ku mahasiswa baru pastikan kaliyan semua hadir dalam acara OSPEK In Memorial Bersama BEM STAIN dan seluruh panitia OSPEK 2009....bersama kita kenang sejarah kita bersama dalam Film OSPEK 2009...so pasti kaliyan akan terhibur bahagia menyaksikan kaliyan semua menjadi bintang film dalam film kenangan tersebut...
Selain nonton film bareng acara akan di isi dengan pembagian sertifikat OSPEK dan penganugrahan Peserta terbaik OSPEK 2009...so jangan sampai kaliyan gak hadir...biar gak nyesel dunia akhirat...

Dan buat kaliyan2 yang ingin membeli kenangan film dan foto-foto OSPEK 2009 dapat menghubungi BEM STAIN dengan biaya administratif Rp. 10.000
 

About

Site Info

Text

Badan Eksekutif Mahasiswa STAIN SKA Komitmen Berjuang dan Melayani Copyright © 2009 Community is Designed by Bie